Jumat, 07 Desember 2012

18 cara memasarkan objek pariwisata

Banyak cara memasarkan produk
pariwisata agar dikenal masyarakat luas
dan akhirnya mampu menjaring wisatawan
baik nusantara maupun mancanegara. Cara
pemasaran ada yang berbiaya murah,
sedang, dan mahal. Tergantung
ketersediaan anggaran, keseriusan, dan
seberapa besar wisatawan yang ingin
dijaring. Apa saja caranya?
Belum lama ini sebuah perusahaan
swasta mengirimkan peti mati ke
sejumlah pemimpin redaksi media massa.
Jelas cara itu menghebohkan. Si-
perancang pengiriman, Sumardy
mengaku melakukan itu karena merasa
dunia periklanan sudah mati dan tidak
ada apresiasi. Dia pun melakukan
sesuatu yang baru sebelum memasarkan
produknya yakni buku dan perusahaan
marketingnya.
Cara pemasaran yang dilakukan Sumardy
dan 8 rekannya hingga berurusan dengan
polisi ini menurut pakar pemasaran
Rhenald Kasali merupakan pemasaran
bombastis. Pemasaran jenis ini sifatnya
sesaat, cepat terkenal tapi imej produk
dan perusahannya rusak.
Bisakah pemasaran bombastis seperti itu
diterapkan untuk produk pariwisata yang
mencakup usaha jasa pariwisata,
pengusahaan obyek dan daya tarik
wisata, dan usaha sarana pariwisata?
Jawabnya bisa saja. Tapi hasilnya adalah
pencitraan yang buruk.
Masih ada banyak cara memasarkan
produk pariwisata yang lebih efektif dan
elegan dengan pencitraan positif, yang
bertujuan bukan hanya dikenal luas tapi
mampu menjaring wisatawan sebanyak
mungkin. Berikut ke-18 cara memasarkan
produk pariwisata versi
travelplusindonesia.

1. Membuat website resmi dwibahasa,
Indonesia dan Inggris.
Kalau lebih dari itu lebih baik. Website
produk pariwisata yang dibuat menarik,
antara lain berisi jadual kalender event
yang tepat waktu dan lokasi, peta, dan
cara mencapainya serta alamat, fax,
email, nomor telepon atau contact
person. Website ini bukan berisi kegiatan
pejabat tapi murni informasi terkini
mengenai produk pariwisata yang
informatif, menarik, dan dilengkapi
dengan foto-foto berkualitas yang
membuat orang tertarik datang. Website
harus ditangani orang-orang profesional
yang memahami kepariwisataan,
pemasaran, dan jurnalistik.

2. Menyebarluaskan produk pariwisata
lewat jejaring sosial facebook dan twitter,
mengirim ke email komunitas,
yahoogroups, dan lainnya. Cara ini
berbiaya murah dan cukup efektif.

3. Mengajak komunitas yang masih ada
kaitannya dengan kepariwisataan untuk
melakukan kegiatan di Indonesia, seperti
komunitas vegetarian, komunitas marga
China, pegolf, dan lainnya.

4. Menggunakan media konvensional
seperti membuat leaflet, brosur, booklet,
dan poster yang menarik dan informatif
dengan kertas dan gambar-gambar
berkualitas, bukan gambar pejabat narsis.

5. Memasang produk pariwisata di papan
reklame yang ditempatkan di tempat-
tempat strategis seperti bandara, stasiun,
terminal, pelabuhan, pintu tol, pusat
informasi wisata, pusat perbelanjaan, dan
lainnya. Tapi ingat gambarnya harus
menarik, dan lagi-lagi bukan foto pejabat
yang dipajang.

6. Mengikuti pameran wisata dengan
membuat stand nyentrik dan suguhan
menarik disertai kelengkapan brosur,
leaflet, poster ataupun booklet berisi
informasi kalender wisata dan paket tur
wisata.

7. Mengelar press tour dengan
mengundang sejumlah media massa
yang konsisten menyebarluaskan
informasi pariwisata, baik media dari
dalam negeri maupun mancanegara. Dan
juga mengadakan fam trip dengan
mengajak travel agent untuk membuat
paket tur ke sejumlah obyek wisata yang
dipasarkan.

8. Mengundang sejumlah orang asing
untuk tinggal dan berinteraksi dengan
masyarakat setempat sebagaimana
dilakukan di Ubud, Bali agar orang-orang
tersebut mengenal bahkan jatuh cinta
hingga mau menyebarluaskan dan
mengajak teman-temannya datang.

9. Mendukung komunitas atau individu
yang melakukan kegiatan di
mancanegara dan mempunyai visi dan
misi mempromosikan pariwisata
Indonesia, misalnya pendakian gunung
ke sejumlah gunung dunia, lawatan
kesenian, keliling dunia dengan
bersepeda, berjalan kaki, konser musik,
dan lainnya.

10. Bekerjasama dengan kedutaan
Indonesia di mancanegara, pelajar/
mahasiswa, Tenaga Kerja Indonesia (TKI),
perantau, pedagang, maupun profesional
yang yang belajar atau bekerja di luar
negeri sebagai agen pemasaran wisata.

11. Memasang iklan dan advertorial di
media nasional dan internasional yang
tepat sasaran dan audiensnya. Biayanya
jelas besar.

12. Menayangkan iklan atau menjadi
sponsor di event internasional tersohor
untuk mencuri perhatian dunia. Biayanya
juga tentu besar.

13. Menginjinkan produser film nasional
maupun asing untuk syuting di lokasi
obyek wisata, dengan catatan film, iklan,
sinetron yang dibuatnya ditayangkan
secara luas ke publik nasional dan
internasional dengan menyebut dan atau
mencatumkan nama lokasi syutingnya.

14. Memperbanyak event berskala
internasional yang benar-benar
profesional, berbeda, berkelas, dan
menarik kemasannya dengan
mengundang peserta dari mancanegara
seperti event musik, pesta kesenian,
festival budaya, karnaval, dan lainnya.

15. Menetapkan target pasar dan
memperluas pasar potensial baru sesuai
jenis produk pariwisata.

16. Menentukan cara pemasaran yang
efektif sesuai anggaran dan target yang
ingin dicapai. Semakin banyak cara
dilakukan semakin baik dan tentu
semakin besar biayanya.

17. Semua jenis pemasaran yang dipilih
harus dilakukan secara kontinyu,
informasinya semakin informatif dan
terkini, menarik serta menguntungkan
bagi calon wisatawan, misalnya dengan
memberi diskon, atau membeli paket 1
dapat dua selama masa promosi, dan
teknik menjaring wisatawan lainnya
sejauh itu efektif dan elegan.

18. Waktu pemasaran dibagi 4 tahap
yakni pra pelaksanaan, menjelang
pelaksanaan, saat pelaksanaan, dan
pasca pelaksanaan.
Waktu pemasaran pra pelaksanaan
dilakukan setahun sebelumnya, ini
dimaksudkan untuk memberi tenggang
waktu kepada wisatawan agar dapat
merancang kunjungan termasuk
menyediakan waktu dan mengumpulkan
uang. Biasanya wisman merancang
liburannya setahun sebelumnya.
Menjelang pelaksanaan dilakukan
sebulan atau beberapa hari sebelumnya,
tujuannya untuk mengingatkan
wisatawan akan produk pariwisata yang
dijual.
Saat pelaksanaan untuk mengabarkan
jalannya kegiatan sekaligus
menginformasikan acara serupa jika rutin
digelar setiap tahun. Sedangkan waktu
pemasaran pasca pelaksanaan untuk
mengabarkan kelebihan dan kekurangan
dari hasil evaluasi pelaksanaan sekaligus
menginformasi kepada calon wisatawan
berikutnya.